I WIll Find

A Dream That Is MIne

Namaku Firefly. Kita bertemu lagi. Ahh… Maksudku Senang Bertemu Denganmu! Aku Senang Kamu Menemukan Tempat Ini. Maukah Kamu Berjalan-Jalan Sebentar dan Melihat Ceritaku Disini?

Born To War

Stellaron Hunter

Wishes

Born To War

“Aku lahir bukan dari kasih sayang, melainkan dari sisa-sisa reruntuhan dunia yang tak lagi punya nama. Sejak pertama kali aku bisa bernapas, takdir sudah membelengguku dengan kutukan entropy yang perlahan menggerogoti tubuhku membuat setiap detiknya terasa seperti berpacu dengan waktu. Aku hanyalah eksperimen yang dirancang untuk satu tujuan: menjadi alat perang yang tidak mengenal lelah, yang tidak boleh merasa sakit, dan yang tidak diizinkan untuk memiliki keinginan sendiri.

Di balik armor dingin yang menjadi rumah sekaligus penjara bagiku, aku hanyalah seorang gadis yang terobsesi dengan hal-hal sederhana yang tidak pernah bisa kurasakan sepenuhnya. Aku belajar cara membunuh sebelum aku sempat belajar cara untuk hidup. Meski takdir menobatkanku sebagai senjata penghancur, di tengah sunyinya kokpit besi, aku selalu bertanya-tanya: apakah mungkin bagi seseorang yang terlahir dari api dan kehancuran, untuk sekadar mendambakan masa depan yang tenang?”

Stellaron Hunter

“Dunia ini tidak memberiku pilihan, tapi Elio memberiku satu-satunya jalan keluar. Bergabung dengan Stellaron Hunter bukanlah pelarian, melainkan sebuah sumpah yang mengikat jiwaku dengan masa depan yang bahkan tak berani aku impikan. Di bawah arahan Kafka, aku belajar bahwa menjadi senjata tidak selalu berarti harus kehilangan jati diri. Aku belajar bahwa ada harga yang harus dibayar untuk setiap keping harapan.

Ini adalah persimpangan hidupku. Elio menjanjikan sebuah jawaban atas kutukan yang menggerogotiku, dan sebagai gantinya, aku memberikan seluruh keberadaanku untuk menjadi pedang yang akan menebas tirai takdir. Meski kehadiranku di sini hanyalah sebuah langkah menuju akhir yang sudah dituliskan, setidaknya untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki tujuan yang tidak ditentukan oleh orang lain.”

Wishes

“Kalau saja aku bisa memilih, aku ingin lahir di planet yang damai, bukan di tengah debu perang. Bayanganku soal sekolah itu menyenangkan sekali; berkumpul dengan teman-teman seumuran, membicarakan hal-hal konyol, atau sekadar bertukar rahasia kecil… rasanya pasti seru, ya?

Oh, dan ada banyak hal sederhana yang ingin kulakukan! Aku ingin menghabiskan uang untuk barang-barang lucu sampai teman-temanku menyebutku shopaholic. Aku juga bertekad untuk jadi ahli mencicipi dessert! Kamu tahu kan, makanan manis itu punya sihir sendiri untuk bikin hari terasa lebih cerah?

Tapi, aku sadar… sayap yang berkobar ini suatu saat nanti akan padam. Sebelum semuanya berakhir dan aku kembali ke tanah, aku hanya punya satu keinginan besar: Aku ingin melihat cahaya paling terang di langit yang bisa kulihat dengan mataku sendiri, bukan melalui sensor kokpit besi. Hanya itu.”

Echoes Of Moments Past

“Langit di Penacony malam itu… indah sekali, bukan? Aku selalu berpikir kalau bintang jatuh itu hanyalah sisa-sisa impian yang terbakar di atmosfer. Saat aku berdiri di sana, aku tidak sedang memikirkan takdir atau skrip. Aku cuma berharap, kalau saja waktu bisa berhenti sebentar saja, aku ingin membiarkan momen tenang ini menetap di ingatanku lebih lama. Sebelum semuanya kembali menjadi api.”

“Kamu tahu? Awalnya aku takut fotonya tidak akan terlihat bagus karena kita terlalu sibuk tertawa. Lihat, bahkan fokusnya sedikit meleset, kan? Tapi melihat raut wajahmu di foto ini, rasanya seperti ada kehangatan yang menjalar di hatiku. Mungkin bagi orang lain ini hanya foto biasa, tapi bagiku, ini adalah bukti kalau ada orang yang benar-benar ingin menangkap momen bersamaku. Momen yang… terlalu manis untuk dilupakan.”

“Dunia mungkin tidak memberiku banyak waktu untuk bersenang-senang seperti ini. Tapi, biarkan aku egois sebentar saja? Aku ingin memutar waktu di momen ini terus-menerus. Saat di mana satu-satunya hal yang perlu aku khawatirkan hanyalah bagaimana cara agar percikan api ini tidak mengenai bajuku bukan tentang takdir, bukan tentang kematian, dan bukan tentang peran yang harus kumainkan. Hanya aku, kamu, dan cahaya ini.”

“Seharusnya, aku bilang ‘pilih satu’ atau ‘pilih seperlunya’, bukan malah ‘beli apa pun yang kamu mau’. Aku menyesal sudah berbaik hati hari itu. Lihat saja, aku bahkan tidak sanggup protes saat melihatmu memborong semua camilan di toko itu. Padahal, aku cuma ingin bersikap manis… kenapa dompetku yang malah jadi korbannya?”

“Mungkin ini bukan kenangan yang heroik, tapi buatku, ini adalah salah satu momen yang paling tak tergantikan.”

“Mungkin takdir tidak selalu mempertemukan kita di tempat atau waktu yang tepat. Tapi, bukankah setiap perjalanan selalu dimulai dari langkah pertama? Jika kamu ingin melihat cerita yang lebih jauh dan mungkin, menemukan sedikit bagian dari diriku di antara bintang-bintang aku akan menunggumu di sana. Mari kita buat memori baru bersama, di dunia yang tak lagi dibatasi oleh skrip.”